Sabtu, 16 Oktober 2010

Sejarah Musik Regge

Sejarah Musik Reggae

No woman no cry
No woman no cry
Little darling, don’t shed no tears
No woman no cry

Siapa yang tidak tahu dengan lirik lagu tersebut? Ya, lagu No Woman No Cry yang dibawakan oleh sang ”Nabi Rastafaria” Bob Marley ini memang sudah sangat akrab di telinga kita. Lagu dengan beat slow dan membawa kita hanyut dalam goyangan gemulai ini pasti mengingatkan kita akan dua hal, reggae dan Bob Marley.

Musik reggae berasal dari daerah Jamaika. Awalnya, musik reggae ini merupakan peralihan selera musik penduduk Jamaika. Memang, sebelum reggae lahir, penduduk Jamaika yang cukup terkenal dengan budaya musiknya, lebih dahulu menikmati irama musik ska dan rocksteady. Mungkin, penduduk Jamaika menginginkan alunan musik dengan tempo lebih lambat namun tetap bisa membawa mereka bergoyang. Dan akhirnya, tahun 1968 merupakan tahun kelahiran musik reggae.

Namun musik reggae sendiri tetap mendapatkan pengaruh dari kedua jenis musik sebelumnya tadi. Hal tersebut terlihat dari teknik para musisi reggae memainkan alat musiknya yang masih meniru teknik para musisi ska dan rocksteady.

Lirik lagu dalam musik reggae yang dibawakan oleh sang vokalis dengan nada berat merupakan pencerminan dari isi lirik itu sendiri di mana sarat akan nilai religi para pengikut Rastafaria.

Lalu ada apa antara reggae dengan Bob Marley? Pria kulit hitam yang mempunyai nama asli Robert Nesta Marley ini merupakan pelopor musik reggae. Dia lah yang mengenalkan reggae di kancah musik internasional. Jika kita mendengar nama Bob Marley pasti kita akan teringat dengan musik yang ia bawakan, begitu juga jika kita mendengar reggae pasti kita akan teringat dengan pria gimbal ini.

Bob marley memulai karier musiknya sekitar tahun 1963. Pria asli Jamaika ini mulai mendapat inspirasi untuk bermusik ketika ia pindah ke Kingston, ibu kota Jamaika. Bob tidak sendirian dalam menempuh langkah awal ia bermusik. Bersama Peter Mclntosh dan Bunny Livingston, Bob membentuk band pertamanya, The Wailing Wailers. Namun umur The Wailing Wailers tidak bertahan lama, dan mereka pun berganti nama menjadi The Wailer. Dari album-album yang dibuat Bob dan teman-temannya, terlihat bahwa Bob ingin menyuarakan ajaran-ajaran Rastafaria. Oleh karena itulah, Bob terkenal dengan sebutan “Sang Nabi Rastafaria”.

Walaupun Bob Marley telah tiada, namun penerus ”Sang Nabi” ini tetap membawa musik reggae untuk didengarkan ke seluruh penjuru dunia. Freddie McGregor, Dennis Brown, Garnett Silk, dan Marcia Fiffths adalah nama-nama yang menggantikan Bob Marley untuk mengajak kita bergoyang santai menikmati alunan musik reggae.

Musik Reggae juga identik dengan lifestyle para penikmatnya. Apalagi kalau bukan dreadlock dan ganja. Dreadlock atau yang lebih kita kenal dengan rambut gimbal sepertinya sudah menjadi identitas buat mereka yang menggemari musik reggae. Bahkan sekarang rambut gimbal ini tidak hanya digunakan oleh kaum rastafaria saja, dreadlock sudah menjadi salah satu trend rambut anak muda saat ini yang ingin tampil beda yang terkadang tidak paham betul filosofi dari rambut gimbal itu.

Istilah Dreadlock sendiri berakar dari para kaum ”Dread” merekalah yang pertama kali menggunakan rambut gimbal sebagai simbol ajaran rastafarianisme.

Simbolisasi ini juga berkaitan dengan keadaan sosial dan politik di negara kaum kulit hitam ini. Para pengikut rasta merasa tidak puas dengan keadaan pada saat itu, dan mereka ingin mempertahankan tataran nilai dan adat religi mereka, termasuk memelihara Dreadlock. Selain itu, mereka menggunakan rambut gimbal ini sebagai upaya untuk membedakan orang kulit hitam dengan orang kulit putih yang mempunyai rambut pirang.

Ganja seakan menjadi ikon tersendiri di musik reggae. Kata teman saya, memang lebih nikmat kalau mendengar musik reggae sambil menghisap ganja. Karena, kita tidak menari-nari lagi tapi kita akan melayang!

Mungkin, pendapat teman saya itu disebabkan karena irama musik ini yang memang membawa kita hanyut dalam buaian santai, lepas tanpa beban, bahkan mengajak kita terbang melayang. Dan akhirnya, ganja menjadi semacam syarat jika benar-benar ingin menikmati musik ini.

Selain itu, ganja menjadi lifestyle mereka karena para musisi musik ini juga menggunakan ganja. Sifat untuk mengadaptasi kelakuan idola mereka pun tampaknya sangat terlihat di sini. Cover album Bob Marley ”Catch a Fire”dengan terang-terangan menggambarkan ia sedang menghisap ganja. Tak hanya Bob Marley, Peter Tosh setiap kali beraksi di atas panggung juga menikmati ganja. Peter Tosh sempat dikecam pemerintah karena lirik lagu ”Legalize It” yang menjadi hitsnya ini berisikan seruan agar pemerintah mau melegalkan ganja.

Musik reggae memang mempunyai sejarah yang panjang, reggae tidak hanya musik dengan tempo lambat dengan vokal berat saja tapi reggae juga menyangkut kepercayaan, identitas, dan simbol perlawanan para penikmatnya terhadap penindasan yang mereka rasakan di tanah kelahiran musik ini.

0 komentar:

Posting Komentar